Selasa, 19 Februari 2013

Kritik Sastra



Rendra dan Gejolak Sosial Politik Tahun 1967

W.S Rendra atau Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir Solo, 7 November 1935) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia meninggal di Depok pada 6 Agustus 2009. Beberapa karya dari W.S Rendra yaitu Ballada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak), Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Sajak-sajak Sepatu Tua, Mencari Bapak, Perjalanan Bu Aminah, Nyanyian Orang Urakan, Pamphleten van een Dichter, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Disebabkan Oleh Angin dan lain-lain. Dari semua puisi karya W.S Rendra, ada puisi yang merupakan puisi kritik sosial politik, yaitu  sebuah puisi yang berjudul  Kesaksian Tahun 1967. Puisi ini adalah puisi yang sarat akan kritik social politik pada awal zaman orde baru, tepatnya tahun 1967. Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan bahwa karya sastra tidak begitu saja jatuh dari langit. Ada yang menciptakannya. Dalam hal ini, Rendra sebagai penyair dan dramawan besar Indonesia membaca kehidupan sosial politik di negerinya dan memberikan kesaksian melalui puisi tersebut. Asep S. Sambodja menilai bahwa kegelisahan eksistensial Rendra sangat menonjol dalam puisi itu, meskipun yang dibicarakan adalah persoalan kehidupan masyarakatnya. Persoalan-persoalan kehidupan itu diserap dan dihayatinya kemudian diekspresikan melalui “Kesaksian Tahun 1967” setelah mengalami proses pengendapan. Kata-kata yang digunakan Rendra sangat khas; idiom yang digunakannya juga terbaca dalam puisi-puisinya yang lain. Berilut adalah puisi W.S Rendra tersebut.
Kesaksian Tahun 1967

Dunia yang akan kita bina adalah dunia baja
kaca dan tambang-tambang yang menderu
bumi bakal tidak lagi perawan,
tergarap dan terbuka
sebagai lonte yang merdeka
Mimpi yang kita kejar, mimpi platina berkilatan
Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan
Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga

Nasib kita melayang seperti awan
Menantang dan menertawakan kita
menjadi kabut dalam tidur malam
menjadi surya dalam kerja siangnya
Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini
dengan tangan-tangan yang angkuh dan terkepal
Tangan-tangan yang memberontak dan bekerja
Tangan-tangan yang mengoyak sampul keramat
dan membuka lipatan surat suci
yang tulisannya ruwet tak bisa dibaca
Puisi ini mengisahkan keadaan Indonesia pada masa transisi antara orde lama ke orde baru. Gejolak politik yan penuh intrik, fenomena sosial politik dan kejadian besar lain pada waktu itu seperti terangkum dalam puisi ini. “Dunia yang akan kita bina adalah dunia baja. Disisi sepertinya Rendra hendak mengungkapkan usaha Soeharto untuk menegakkan kembali Pancasiladan UUD 1945 secara murni dan konsekuen pada “dunia baja”, yaitu ideologi nasakom, salah satu peninggalan Soekarno. Pada bait kedua, penggambaran gelombang demokrasi rakyat dan mahasiswa yang acapkali terjadi layaknya “kaca dan tambang-tambang yang menderu”.bumi bakal tidak lagi perawan,
tergarap dan terbuka
, sebagai lonte yang merdeka, ini merupakan penggambaran terhadap usaha Soeharto untuk merubah pandangan rakyat agar bisa lebih maju dan terbuka karena saat itu keadaan Indonesia sedang terpuruk. Penggunaan kata “lonte” disini memang terkesan fulgar namun inilah ciri khas Rendra.Kata “lonte” merupakan pengibaratan sesuatu hal yang sedang dijajah, layaknya Indonesia yang kala itu dijajah oleh peninggalan rezim Soekarno yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Selanjutnya, Rendra seperti menggambarkan impian yang ingin dicapai Soeharto bersama rakyat Indonesia untuk mengejar “mimpi platina berkilatan”. kita tahu bahwa platina adalah logam yang tidak bisa berkarat, begitupun mimpi Soeharto dan rakyat Indonesia untuk menjadokan Indonesia negara yang kuat dan mampu bersinar di mata dunia. Meskipun “
Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan”, yaitu dunia dengan kondosi sosial politik yang tidak stabil. “Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga”. Baris ini menegaskan bahwa keadaan saat itu keadaan yang tidak kondosif dan tidak mudah bagi Soeharto untuk keluar dari keadaan itu.
Nasib kita melayang seperti awan, menantang dan menertawakan kita, menjadi kabut dalam tidur malam, menjadi surya dalam kerja siangnya”. Baris-baris di atas mengungkapkan bahwa pemerintahan Soeharto masih berusaha dan belum erhasil mengatasi keadaan pada zaman tersebut. Ada banyak halangan dan rintangan dalam usaha Soeharto mewujudkan impiannya. Dalam baris “Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini, dengan tangan-tangan yang angkuh dan terkepal”, sepertinya Rendra ingin mengungkapkan bahwa Soeharto akan gagal dalam memimpin bangsa ini jika ia angkuh dan otoriter. “Tangan-tangan yang memberontak dan bekerja, Tangan-tangan yang mengoyak sampul keramat, dan membuka lipatan surat suci, yang tulisannya ruwet tak bisa dibaca”. Baris-baris akir dari puisi ini memperlihatkan bahwa puisi Rendra menggunakan kata-kata ideomatik yang memerlukan pemahaman khusus dalam mengartikan puisinya. Baris-baris tersebut merujuk pada pejabat pemerintah ada yang membelot dari aturan Soeharto dan ada pula yang sejalan dengan Soeharto. Tindakan-tindakan pejabat pemerintahan tersebut tidak dapat diprediksikan bagaimana Indonesia nantinya. Dalam penuangan ide kreatifnya, rendra memang dikenal lugas dan sering menggunakan pilihan kata yang cukup unik dan  sulit untuk diterjemahkan.


Sabtu, 09 Februari 2013

Essay



Hakim, Bukan Pengadilan yang Hakiki

Sebagai negara hukum, Indonesia tentu memiliki orang-orang yang bertugas mengadili pelanggar hukum. Para pengadil itu adalah hakim.Hakim-hakim ini berada di setiap daerah. Dari tangan merekalah nasib para pelaku kejahatan ditentukan. Apakah mereka akan mendekam dibalik jeruji besi, atau mereka akan menemui hukuman mati. Para hakim tentunya menjatuhkan vonis sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hakim-hakim tersebut banyak diharapkan rakyat agar mampu mengadili pelaku kejahatan dengan tegas.

Pertanyaannya, sudahkah hakim yang bertindak sebagai pengadil berlaku adil? Jika kita lihat keadaan di Indonesia saat ini, tentu jawabannya adalah belum. Masih adanya money politic di dalam dunia kehakiman Indonesia masih menjadi penegas bahwa hakim saat ini belum berada pada konteks yang sesungguhnya. Mereka lebih mementingkan besar rupiah yang dapat mengalir ke kantongnya dibandingkan besar keadilan yang dapat ditegakannya. Tentunya perilaku yang demikian sangat tidak pantas berada di dalam diri seorang hakim. Mereka mendapat kepercayaan dari negara untuk mengungkap keadilan tetapi justru mereka menjadikan meja hijau layaknya permainan "monopoli". Yang mempunyai banyak uang yang menang.

Tak berhenti disitu saja, putusan hakim terkadang juga tak sepadan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh tersangka. Tentu masih jelas tergambar di ingatan kita, orang-orang miskin yang tersandung kasus hukum yang sepele mendapat hukuman yang lumayan berat. Sesungguhnya sebagian besar dari mereka melakukan tindak kejahatan tersebut karena himpitan ekonomi. Tetapi jika kita tengok kasus-kasus kejahatan yang melibatkan orang-orang besar di negeri ini, mereka mendapatkan vonis yang tak sepadan dengan apa yang telah mereka lakukan. Vonis yang mereka dapatkan terlalu ringan. Selain mendapat vonis yang ringan, mereka pun bisa mendapatkan pelayanan VIP. Hal ini selalu menjadi sorotan publik. Tentu masyarakat menjadi bertanya-tanya, apakah derajat seseorang menentukan besar vonis yang akan dijatuhkan padanya?

Hakim saat ini nampaknya juga belum bisa menerarapkan perilaku-perilaku yang baik sebagai pemegang amanah peradilan di Indonesia. Beberapa hakim pernah menjadi sorotan karena melakukan tindakan yang tidak sepantasnya mereka lakukan. Misalnya mereka mengeluarkan pernyataan yang tidak pantas. Hal ini mengindikasikan bahwa hakim yang berlatar belakang pendidikan hukum justru melanggar moral, nilai dan etika. Sangat disayangkan seorang hakim yang terhormat tidak mampu menjaga lisannya di depan umum. Dalam hal ini seharusnya pemerintah dapat melakukan pengawasan yang ketat dan menindak tegas hakim yang tidak bisa menanamkan moral, nilai-nilai dan etika yang baik pada diri mereka.

Tentunya kita semua sudah sudah memahami keadaan dunia peradilan di Indonesia yang masih banyak terjadi penyelewengan. Mulai dari adanya money politic, ketidaksesuaian pelanggaran dengan vonis yang dijatuhkan hingga mengeluarkan pernyataan yang tidak sepantasnya diucapkan. Berkaca dari hal di atas, hakim yang ada di Indonesia harus segera berbenah diri agar mereka yang bertindak sebagai pengadil mampu menjalankan tugasnya dengan baik tanpa harus dicoreng dengan tindakan yang dapat merugikan orang lain. Diluar itu, harus kita sadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan pengadilan dari hakim pun bukanlah pengadilan yang hakiki. Pengdilan yang hakiki tentunya penghakiman dari Tuhan. Meskipun begitu, usaha untuk terus menjadi lebih baik tetap harus dijalankan demi terciptanya sistem peradilan yang baik.

Sabtu, 17 November 2012

BIOGRAFI SAPARDI DJOKO DAMONO



SAPARDI DJOKO DAMONO


Prof.Dr. Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta , 20 maret 1940. Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Sapardi bersekolah SD di Sekolah Dasar Kasatrian. Setelah itu ia melanjutkan ke SMP Negeri 2 Surakarta. Pada saat itulah kegemarannya terhadap sastra mulai nampak. Sapardi lulus dari SMA pada tahun 1955. Kemudian ia melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 2 Surakarta. Sapardi menulis puisi sejak duduk di kelas 2 SMA. Karyanya dimuat pertama kali oleh sebuah suat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Sapardi lulus dari SMA pada tahun 1958.

Setelah lulus SMA, Sapardi melanjutkan pendidikan di jurusan Sastra Barat FS&K di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Setelah lulus kuliah, selain menjadi penyair ia juga melaksanakan cita-cita lamanya untuk menjadi dosen. Ia meraih gelar sarjana sastra tahun 1964. Kemudian Sapardi memperdalam pengetahuan di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat (1970-1971) dan meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia (1989). Setelah itu, Sapardi mengajar di IKIP Malang cabang Madiun selama empat tahun. Kemudian dilanjutkan di Universitas Diponegoro , Semarang, juga selama empat tahun. Sejak tahun 1974, Sapardi mengajar di FS UI. Beberapa karyanya yang sudah ada di tengah masyarakat antara lain DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974). Sapardi juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. (1978).

Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984. Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit – memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.

Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak. Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru. Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari.

Kumpulan Puisi/Prosa
·                                 "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
·                                 "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
·                                 "Mata Pisau" (1974)
·                                 "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
·                                 "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
·                                 "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
·                                 "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
·                                 "Perahu Kertas" (1983)
·                                 "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
·                                 "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
·                                 "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
·                                 "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
·                                 "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
·                                 "Hujan Bulan Juni" (1994)
·                                 "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
·                                 "Arloji" (1998)
·                                 "Ayat-ayat Api" (2000)
·                                 "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
·                                 "Mata Jendela" (2002)
·                                 "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
·                                 "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
·                                 "Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
·                                 "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
·                                 "Kolam" (2009; kumpulan puisi)

Buku
·                                 "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
·                                 "Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan"
·                                 "Dimensi Mistik dalam Islam" (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel "Mystical Dimension of Islam", salah seorang penulis.

Pustaka Firdaus
·                                 "Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia" (2004), salah seorang penulis.
·                                 "Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas" (1978).
·                                 "Politik ideologi dan sastra hibrida" (1999).
·                                 "Pegangan Penelitian Sastra Bandingan" (2005).
·                                 "Babad Tanah Jawi" (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.




Sabtu, 27 Oktober 2012

Proses Terjadinya Anak Kembar





http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs791.ash1/168119_173008352737776_100000858389175_341422_5753718_n.jpgKembar Monozygotik (Identik)
Kembar identik yang disebut juga sebagai kembar Monozygotik, yaitu kembar yang berasal dari satu telur. Mempunyai gen yang sama, jenis kelamin yang sama, dan muka yang serupa.
1.      Proses terjadinya kembar identik yaitu karena pada masa pembuahan sebuah sel telur matang di buahi oleh sebuah sperma yang membantuk zygote, kemudian zygote ini akan membelah.

Jika pembelahan zygote ini terjadi saat awal pembuahan (1-3 hari setelah pembuahan) maka setiap embrio biasanya akan memiliki kantong ketuban yang berbeda, dan satu plasenta.

Tetapi bila pembelahan terjadi setelah 14 hari maka kemungkinan kembar akan terjadi join / menempel bersama pada bagian dari tubuhnya atau pembelahan yang tidak sempurna yang disebut sebagai kembar siam lebih tinggi.

Jadi kembar siam terjadi pada kembar monozygot. Dengan pemeriksaan USG (utrasonografi) dokter akan dapat menilai keadaan dari janin, jenis kelamin, kelainan maupun posisi dll.

Kembar Dizygotik
Kembar fraternal yang disebut juga sebagai kembar dizygotik, yaitu kembar yang berasal dari dua telur. Mereka biasanya tidak terlalu mirip atau seperti kakak adik saja.
2.      http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs027.snc6/165753_173008399404438_100000858389175_341423_6721394_n.jpg
Tidak selalu memiliki jenis kelamin yang sama dimana : 1/2 bagian dari kembar fraternal adalah anak laki - anak perempuan; 1/4 bagian adalah anak laki - anak laki dan ; 1/4 bagian lagi anak perempuan - anak perempuan.

Proses terjadinya kembar fraternal yaitu karena pada masa pembuahan terdapat dua buah sel telur matang yang masing- masing di buahi oleh sperma yang berbeda.

Karena berasal dari dua telur dan sperma yang berbeda maka masing- masing mempunyai kantung ketuban dan plasenta sendiri. Jadi kembar fraternal, adalah terjadinya 2 proses pembuahan dalam satu kehamilan.

Kira-kira 2/3 bagian dari bayi kembar adalah kembar fraternal. Biasanya dokter akan dapat menyatakan kembar identik atau fraternal setelah proses kelahiran dengan menilai dari plasentanya.


Bayi Tabung



Secara sederhana, bayi tabung adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh ibu, istilahnya in vitro vertilization (in vitro bahasa latin, artinya “dalam gelas atau tabung,” vertilization artinya pembuahan). Dalam proses bayi tabung, sel telur matang diambil dari indung telur ibu, dibuahi dengan sperma di dalam medium cairan. Setelah berhasil, embrio kecil yang terjadi dimasukkan ke rahim dengan harapan berkembang menjadi bayi.

Berikut 10 tahapan dalam proses pembuatan bayi tabung:
  1. Seleksi pasien. Apakah Anda dan suami layak mengikuti program bayi tabung. Bila layak, baru bisa masuk dan mengikuti program bayi tabung.
  2. Stimulasi atau merangsang indung telur untuk memastikan banyaknya sel telur. Secara alami, sel telur hanya satu. namun untuk bayi tabung, perlu lebih dari sati sel telur untuk memperoleh embrio.
  3. Pemantauan pertumbuhan folikel (cairan berisi sel telur di indung telur) melalui ultrasonografi. Tujuannya, melihat apakah sel telur sudah cukup metang untuk ‘dipanen.’
  4. Mematangkan sel telur dengan menyuntikkan obat agar siap ‘dipanen.’
  5. Pengambilan sel telur, kemudian diproses di laboraturium.
  6. Pengambilan sperma suami (pada hari yang sama). Jika tidak ada masalah, pengambilan dilakukan lewat masturbasi. Jika bersamalah, pengambilan sprema langsung dari buah zakar melalu operasi.
  7. Pembuahan atau (fertilisasi) di dalam media kultur di laboraturium. hasilnya embrio.
  8. Transfer embrio kembali ke dalam rahim agar terjadi kehamilan, setelah embrio terbentuk.
  9. Penunjang fase luteal untuk mempertahankan dinding rahim. Dokter emberi obat untuk mempertahankan dinding rahim ibu agar terjadi kehamilan.
Terakhir, proses simpan beku embrio. Jika ada embrio lebih, bisa disimpan untuk kehamilan selanjutnya.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Teknik Pengkabelan Straight Dan Cross

Teknik Pengkabelan Straight Dan Cross

1.Kabel Straight

Kabel straight adalah istilah untuk kabel yang menggunakan standar yang sama pada kedua ujung kabelnya, bisa EIA/TIA 568A atau EIA/TIA 568B pada kedua ujung kabel. Sederhananya, urutan warna pada kedua ujung kabel sama. Pada kabel straight, pin 1 di salah satu ujung kabel terhubung ke pin 1 pada ujung lainnya, pin 2 terhubung ke pin 2 di ujung lainnya, dan seterusnya.

Jadi, ketika PC mengirim data pada pin 1 dan 2 lewat kabel straight ke Switch, Switch menerima data pada pin 1 dan 2. Nah, karena pin 1 dan 2 pada switch tidak akan digunakan untuk mengirim data sebagaimana halnya pin 1 dan 2 pada PC, maka Switch menggunakan pin 3 dan 6 untuk mengirim data ke PC, karena PC menerima data pada pin 3 dan 6.

Penggunaan kabel straight :

  • menghubungkan komputer ke port biasa di Switch.
  • menghubungkan komputer ke port LAN modem cable/DSL.
  • menghubungkan port WAN router ke port LAN modem cable/DSL.
  • menghubungkan port LAN router ke port uplink di Switch.
  • menghubungkan 2 HUB/Switch dengan salah satu HUB/Switch menggunakan port uplink dan yang lainnya menggunakan port biasa .


Konfigurasi warnanya adalah sebagai berikut :
  1. Putih Orange
  2. Orange
  3. Putih Hijau
  4. Biru
  5. Putih Biru
  6. Hijau
  7. Putih Coklat
  8. Coklat
 untuk lebih jelasnya adalah sebagia berikut:


 


2. Kabel Cross

Kabel crossover menggunakan EIA/TIA 568A pada salah satu ujung kabelnya dan EIA/TIA 568B pada ujung kabel lainnya. Untuk mengenali sebuah kabel apakah crossover ataupun straight adalah dengan hanya melihat salah satu ujung kabel. Jika urutan warna kabel pada pin 1 adalah Putih Hijau, maka kabel tersebut adalah kabel crossover (padahal jika ujung yang satunya lagi juga memiliki urutan warna yang sama yaitu Putih Hijau sebagai pin 1, maka kabel tersebut adalah kabel Straight). Tapi untungnya, kebanyakan kabel menggunakan standar EIA/TIA 568B pada kedua ujung kabelnya.

Penggunaan kabel crossover :


  • menghubungkan 2 buah komputer secara langsung
  • menghubungkan 2 buah HUB/Switch menggunakan port biasa diantara kedua HUB/Switch.
  • menghubungkan komputer ke port uplink Switch
  • menghubungkan port LAN router ke port biasa di HUB/Switch
Konfigurasi Cross :
Pada kabel cross ini urutan warna pada ujung kabel berbeda seperti di jelaskan di bawah ini :

Ujung kabel 1


  1. Putih Orange
  2. Orang
  3. Putih hijau
  4. Biru
  5. Putih biru
  6. Hijau
  7. Putih coklat
  8. Coklat
Ujung kabel 2
  1. Putih hijau
  2. Hijau
  3. Putih orang
  4. Biru
  5. Putih biru
  6. Orang
  7. Putih coklat
  8. Coklat
untuk lebih jelasnya seperti gambar di bawah ini :